Menggenggam Cahaya

Just another WordPress.com site

INFERTILITAS = MANDUL ???

on June 18, 2011

Di masyarakat, infertilitas biasa dikenal dengan kemandulan, padahal ini adalah 2 istilah yang berbeda arti. Kemandulan atau sterilitas adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu untuk memiliki keturunan. Sedangkan infertilitas bukan merupakan ketidakmampuan mutlak untuk mendapatkan keturunan. Pasangan yang telah mencoba memiliki keturunan selama satu tahun namun belum juga mendapatkannya, sudah disebut sebagai pasangan infertil. Terdapat dua jenis infertilitas, yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Infertilitas primer terjadi pada pasangan yang belum pernah memiliki keturunan sama sekali, sedangkan infertilitas sekunder pada pasangan yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan lagi setelah mendapatkan keturunan yang pertama.

Infertilitas mempengaruhi hampir 10% orang usia reproduksi dan dapat terjadi pada pria maupun wanita. Pada kenyataannya, 40% kasus infertilitas melibatkan faktor dari pria, 40% disebabkan oleh wanita, sedangkan sisanya disebabkan oleh kedua belah pihak. Pada pria utamanya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk memproduksi sperma dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk dapat membuahi sel telur. Sedangkan pada wanita penyebabnya antara lain sulit melepaskan sel telur ke rahim, akibatnya sel telur menjadi sulit dibuahi. Bisa juga karena endometriosis atau sulitnya sel telur yang sudah dibuahi untuk melekat dengan sempurna pada dinding rahim. Beberapa obat seperti klorambusil, siklofosfamid, melfalan, metotreksat dan vinkristin yang digunakan sebagai agen kemoterapi juga bisa menyebabkan infertilitas. Obat lain yang berefek samping sama antara lain kolkisin, dietilstilbestrol, sulfasalazin.

Pada berbagai kelompok masyarakat, problem infertilitas ini memiliki stigma buruk tersendiri sehingga menimbulkan beban psikologis. Namun tentu saja ada berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengatasinya. Pilihan terapi yang ada antara lain terapi farmakologis menggunakan obat yang bernama klomifen sitrat, leuprolid asetat, gonadotropin, dan progesteron sebagai terapi hormon. Metode-metode yang diterapkan seperti intrauterine insemination (IUI) – atau yang disebut sebagai inseminasi buatan, in-vitro fertilization (IVF) – adalah pembuahan di luar tubuh. Pencarian donor telur atau donor sperma bisa dilakukan jika masalah terletak pada produksi telur atau sperma pasangan.

secara umum, Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:

1. Umur.
2. Lama infertilitas.
3. Emosi.
4. Lingkungan.
5. Hubungan seksual.
6. Kondisi sosial dan ekonomi.
7. Kondisi reproduksi wanita, meliputi cervix, uterus, dan sel telur.
8. Kondisi reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas.
9. Penyebab lain.

(1) Umur

Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause.

Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun.

Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3.

(2) Lama Infertilitas

Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.

(3) Emosi

Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan hormon reproduksi.

(4) Lingkungan

Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap, silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional (rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein terkandung dalam kopi dan teh.

(5) Hubungan Seksual

Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi, posisi, dan melakukannya pada masa subur.

(6) Frekuensi

Hubungan intim (disebut koitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma dalam jumlah cukup dan matang.

(7) Posisi

Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan, yang nantinya akan bertemu sel telur yang “menunggu” di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, di bawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung. Dianjurkan, setelah wanita menerima sperma, wanita berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.

(8) Masa Subur

Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.

Cara untuk mengetahui masa subur antara lain:

1. Dengan memperhatikan keluarnya lendir mulut rahim yang dapat diraba dengan jari (pastikan jari bersih untuk mencegah terjadinya infeksi). Pada saat subur, keluarlah cairan bening seperti putih telur sehingga kelamin terkesan basah. Banyak wanita menganggap hal itu sebagai keputihan. Di luar saat subur, lendir mulut rahim hanya sedikit dan lebih kental sehingga kelamin terkesan kering.
2. Dengan mengukur suhu tubuh setiap pagi sebelum bangun tidur selama beberapa bulan siklus menstruasi (biasanya sampai tiga bulan). Tanda ovulasi adalah apabila terjadi sedikit kenaikan suhu tubuh pada pertengahan siklus haid. Suhu tubuh itu disebut sebagai suhu basal tubuh, yaitu suhu tubuh dalam kondisi istirahat penuh. Peningkatan suhu tubuh yang jelas, walalupun sedikit (sekitar 0,2-0,5 °C), terjadi karena produksi hormon progesteron yang muncul segera setelah ovulasi. Pemeriksaan meliputi pengukuran suhu tubuh setiap pagi pada waktu bangun tidur, dan dicatat pada suatu grafik khusus (bisa didapatkan dari dokter). Cara mengukur sendiri suhu basal tubuh:
* Guncang termometer (termometer dapat dibeli di apotek) hingga di bawah 36 °C, dan siapkan termometer di dekat tempat tidur Anda sebelum tidur.
* Saat terbangun di pagi hari, letakkan termometer di mulut anda (termometer oral) selama 10 menit. Penting untuk Anda ingat adalah jangan banyak bergerak. Tetaplah berbaring dan istirahat dengan mata tertutup. Jangan bangun selama 10 menit hingga selesai pengukuran.
* Setelah 10 menit, bacalah dan catat suhu tubuh Anda pada grafik saat tanggal pemeriksaan itu.
3. Dengan memeriksa lendir rahim di bawah mikroskop. Pada saat subur akan tampak bentukan seperti daun pakis yang sempurna.
4. Dengan pemeriksaan USG melalui vagina. Dengan pemeriksaan USG melalui vagina dapat dilihat dengan jelas sel telur yang sudah dilepaskan dari indung telur.

(9) Kondisi Sosial dan Ekonomi

Kondisi Sosial dan ekonomi yang semakin buruk akan memperbesar kemungkinan terjadinya infertilitas.

Tips-tips di bawah ini juga bisa diterapkan untuk membantu mengatasi masalah infertilitas:

* Mengkonsumsi makanan bergizi seimbang
* Mengontrol berat badan
* Mengkonsumsi suplemen tertentu, misalnya supleman asam folat.
* Berhenti merokok
* Hindari konsumsi minuman beralkohol
* Hindari menggunakan obat-obatan yang dapat mengurangi kesempatan memiliki keturunan, serta
* Berolahraga secara teratur

References : PIOGAMA (Pusat Informasi Obat Universitas Gadjah Mada) dan beberapa situs lainnya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: