Menggenggam Cahaya

Just another WordPress.com site

SEMBILAN

on November 3, 2011

Sebenarnya setetes bulir tawa takkan tinggal disini sebelum mata membuka jendela
Pasir-pasir berkumpul
Bercerita bahwa hari telah turun dimata pantai
Anjing-anjing berkeliaran
Mata-mata jelatang

Hajar,mengajar
Curau hulu menyapu
Ranum hidung menyusup

Wajah terkasih telah mati,ia terbunuh
Sebelum debu pergi dan bangkai yang terdampar
Sungguh gurau petang menggulung diamku
Lama sekali akan julurkan kaki getah,tapi sia-sia

Malam merenyuh,
Aku sakitkan nya pada angka yang sudah lama terasing
Sembilan

Padang,12 Desember 2010

BAH

Oleh : HUSNIL KHATIMAH

Detik mengerasu
Embun yang terpana,melangkah lelah
Bagikan resah dan duka

Ayo,ayo,ayo
Kabut-kabut hijau dibalik dedaunan
Lapuk dan patah dahan

Tuhan,tidurkan aku dalam dekap-Mu
Biarkan aku lelap
Menyepi dan sayu
Mengetuk nada dengan jejari yang basah
Ayo hujan hantarkan aku tidur panjang’

Memori malam

Dualdegreeroom, 12 Desember 2010
BELUM

Oleh : HUSNIL KHATIMAH

Pirang,girang,terngiang-ngiang
Berbenihkan noda,menumpahkan peluk suara

Hitam,ranum dan tertawa
“hahaha…”aku membunuh hatinya,oh maaf!
Benar, tak salah
Lanjutkan putaran tangan hingga hari lusuh

Ibu memintal lamunku
Ia sendatkan diubun-ubun isak

Aku pana matanya
Oh,tuhan! aku jatuh

Dia,siapa,mana?

Pejam tolong hantarkan lukaku ini
Ajarkan padanya bagaimana memainkan duri dalam daging
Cepatlah sayang!

Padang,08 Januari 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: